A+ A A-

PUISI

Gerak Tari

Lenggok tari gemalai,
Mengalun lembut gerak tangan,
Bahasa badannya buatku terdiam,
Lenggok tarinya,
Ibarat kupu-kupu terbang bebas,
Berada di awangan.

Gerak tarinya menghambat deras,
Degup jantung turun menari,
Bersama alunan melodi dan irama,
Muzik dan lagu menggenggam erat,
Terpaku oleh aksi geraknya.

Tidak hilang dari pandangan,
Dirinya terus bergerak,
Terlihatku :
Pingul menghayun lembut...
Derap kaki menyusun langkah
seirama lagu...
Buat dunia terdiam seketika...
Sungguh hebat si kupu-kupu,
Mengukir senyuman di wajah
muka-muka kedinginan.

Dirinya terus menari,
Segerak membeku pandangan,
Ibarat masa dipegang erat,
Hentikan masa berlalu kini,
Ingin saja dunia mematah jarum jam,
Buat gerak tari berdetik sejenak
waktu,
Penghias teater nusantara kini.

Gerak tari si rama-rama,
Tak akan luput ditelan waktu,
Menjadi warisan pusaka lalu,
Terus bergerak seiring jiwanya
selalu,
''Terus bergerak''..

 

Hidup Seorang Wartawan

Pen dan kertas menjadi teman,
Mengukir patah kata mengikut
alunan,
Larinya bagai harimau garang
menerkam,
Cari bahan buat deretan kertas-
kertas putih.

Tidak pernah serik hidupnya,
Pita rakaman dihunus dengan
cermat,
Beri cerita dan pertalian,
Melambar senyuman ke atas kertas-
kertas kepanasan,
Setelah membakar cerita tentang
warna-warna alam.

Hidupnya seorang wartawan,
Dentuman kaki peribadi tari
gemalainya,
Mengejar si baju putih,
Dirinya mahu diterangi oleh
mata-mata lensa,
Ingin saja wartawan buat dunia
terjaga,
Bangunkan mata-mata lesu penuh
persoalan.

Kini,
Wartawan tetap berdiri,
Walaupun minyak pen kekeringan,
Hati keringat perjuangannya tidak haus,
Sesekali jarum-jarum pen menusuk
badannya,
Namun wartawan seperti pelali
sakit,
Tetap berkarya dalam perjalanan
hidup berobak.

Hidup seorang wartawan,
namanya takkan hilang,
dirinya akan terus mencalit
patah-patah perkataan,
Sebarkan cerita-cerita nusantara,
Buat hidup tersenyum.

 

Seorang Gadis Bersama Lilin

Pernah ketika itu, seorang gadis
bersama lilin,
Ibarat kelkatu unggas merindu
panasnya lilin,
Menghitung detik jarum jam
beputar,
Seorang gadis menggenggam erat jarum jam,
Bersama sebatang lilin bercerita.

Detik jam berarak lalu,
Menghitung masa 1 jam bersama.

Detik 15 minit,
Menghadap panasnya api lilin
jiwanya kehangatan,
Membakar kalkatu-kalkatu
memasang gerak tari sepoi bahasa,
Kalkatu berperang bersama panas api lilin,
Ungas-ungas terbakar kepanasan,
Buat si gadis terbakar oleh panasnya
api lilin.

Detik 30 minit,
Suasana gelap di kotak empat
penjuru tersebut,
Buat si gadis dihimpit bayang-
bayang malam,
Berlari-lari si gadis menjauhi
bebayang warna,
Namun bayang-bayang tetap
mengejar,
Setia menemani si gadis jiwanya
berdarah,
Serentak cahaya lilin menghulur
senyuman,
Buat si gadis berlindung di balik kalkatu lilin.

Detik 45 minit,
Si gadis bersama lilin membuka daun jendela sambil mengamati :
Drama bintang-bintang beraksi..
Berkata-kata dibalik cahaya pekat
malam,
Dirinya mendonggak mereka
bersendiwara... berkasih rindu
menusuk kalbu,
Sungguh hebat langit malam..
Ibarat teater memainkan wayang
di pentas gelap,
Dan api lilin memainkan watak
utama,
Buat si gadis kaku di belakangi api lilin.

Detik 1 jam,
Nafasnya berdesus ibarat garuda buas,
Si gadis cuba mematah-matah jarum jam,
Agar masa berhenti buat si batang lilin,
Namun jarum-jarum jam menusuk
tangan,
Buat si gadis parah ... diluka oleh detik masa berlalu.

Api lilin kian malap,
Kini.. si gadis.. menangis.

 

Pegang Erat

Pernah ketika itu,
Tanganku dipimpin,
Erat sungguh pegangan,
Mahu saja diriku tak lepas,
Melakar senyuman pada muka-
muka kehangatan.

Aku dihimpit pada sudut-sudut
gelap,
Berbagai ragam manusia menerjah,
Terpinga-pinga diriku melangkah,
Ibarat di medan perang,
Lalui peluru-peluru panas,
Membakar meriam dan atom,
Buat jiwa menangis.

Diriku terus maju ke hadapan,
Melawan arus gelombang manusia,
Terpinga-pinga tanganku dipimpin
keras,
Menuju sorakan bergema,
Gegarnya ibarat garuda buas,
Ingin lepas terbang bebas,
Mengikut arus pekikan kebebasan.

Terlompat-lompat diriku
menjenguk,
Mata-mata perwira tumpukan
bendera:
Kuning, putih, hitam dan merah,
Megah sungguh kibarnya bagaikan
layar satria,
Terdengar laungan :
Allahhuakbar!
Allahhuakbar!
Allahhuakbar!
Buat mata-mata Negaraku Brunei
mengalir,
Derasnya bagaikan arus air sungai,
Melakar deretan senyuman dan
keceriaan,
Semuanya bergembira.

Ku tatap bendera negaraku
Brunei Darussalam
''Kita merdeka''...

Oleh : Marzuki

Lebih dalam kategori ini: « PUISI PUISI »

Ramalan Cuaca

Untuk maklumat lanjut Ramalan Cuaca bagi Negara Brunei Darussalam sila layari www.met.gov.bn

Login or Register

LOG IN

Register

User Registration
or Cancel